Call Center 021 2867 4849

Penerapan Zero ODOL 2023 Semakin Nyata, Pemerintah Perlu Peralihan Transportasi Logistik

Transportasi logistik menjadi salah satu faktor penting tercapainya pendistribusian produk ke seluruh daerah di Indonesia. Dengan meningkatkan akses kemudahan dan kelancaran proses pendistribusian tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif yaitu meningkatkan daya saing perekonomian sekaligus kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah melakukan beberapa inovasi untuk meningkatkan efisiensi transportasi logistik skala nasional seperti melakukan pembangunan untuk 11 dari 36 target pelabuhan penyeberangan, pengoptimalan program tol laut dengan 32 unit kapal yang akan melayani 32 trayek dan menyinggahi 114 pelabuhan, serta melakukan pembenahan infrastruktur transportasi udara dengan membangun 10 bandara baru hingga akhir tahun 2024.

Namun, pembenahan fasilitas-fasilitas pendukung transportasi logistik ini dirasa masih belum efektif untuk menanggulangi permasalahan pendistribusian logistik jika tidak diikuti dengan pembenahan moda transportasi utama yaitu transportasi jalur jalan raya khususnya untuk pendistribusian skala daerah dengan jarak maksimal yang dapat ditempuh hanya sekitar 500 kilometer.

Selain itu, dengan hanya melakukan pemangkasan truk ‘obesitas’ dengan melakukan penerapan zero ODOL di tahun 2023 ini dirasa masih belum bisa menjadi solusi jangka panjang untuk meningkatkan kelancaran proses logistik moda transportasi ini.

Oleh karena itu, selain menerapkan kebijakan untuk pembenahan transportasi logistik seperti permasalahan ODOL tersebut, pemerintah dirasa perlu untuk mengalihkan pendistribusian logistik yang sifatnya antar daerah dengan menggunakan moda transportasi yang lebih efisien dan mampu menjangkau jarak tempuh yang lebih jauh, salah satunya yaitu melakukan peralihan transportasi logistik berbasis rel atau menggunakan moda transportasi kereta.

Moda transportasi ini dirasa lebih efisien dan aman ketimbang transportasi jalur darat menggunakan truk angkutan karena mampu menjangkau jarak tempuh yang lebih jauh untuk jalur darat hingga maksimal mencapai 1.500 kilometer dan mampu meminimalisir kecelakaan.

Namun, permasalahan yang dihadapi saat ini adalah biaya operasional KA barang yang masih tinggi karena belum adanya subsidi sehingga belum efektif untuk dijadikan pilihan. Menurut Djoko Setijowarno selaku Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI mengatakan bahwa pemerintah perlu memberikan BBM subsidi untuk KA barang, sehingga dengan subsidi ini harapannya para pengusaha pemilik barang memiliki opsi pilihan dan beralih menggunakan mode KA untuk pendistribusian barang antar darah dengan jarak lebih dari 500 kilometer.

 

Penulis : Penulis : Aditya Anggraeni

Sumber: Kompas|dishub.aceh|tribunnews|sinar harapan

Sumber : https://www.tribunnews.com/nasional/2023/01/17/mti-saatnya-mengembangkan-transportasi-logistik-berbasis-rel



Relate Topics